My Life's Blog

Jalan Panjang Menjadi Widyaiswara

by dudi wahyudi on Aug.06, 2011, under Kantor, Widyaiswara

Mungkin Sobat agak mengernyitkan dahi ketika mendengar kata Widyaiswara. Betul kan? Ya, istilah ini memang asing di kalangan umum sehingga tidak banyak masyarakat tahu artinya Widyaiswara ini. Widyaiswara ini sebenarnya merupakan profesi yang mirip-mirip dengan dosen atau guru. Kalau dosen berdiri di depan kelas yang pesertanya mahasiswa, sementara guru berdiri di depan kelas yang pesertanya siswa SD, SMP, dan SMA, maka Widyaiswara berdiri di depan kelas yang pesertanya adalah pegawai negeri.

Ya, pegawai negeri atau PNS lah kata kunci untuk Widyaiswara ini. Jadi secara umum Widyaiswara itu pekerjaannya adalah mengajar PNS. Lebih tepatnya sebenarnya adalah mendidik, mengajar dan melatih PNS dalam suatu Pendidikan dan Pelatihan (diklat) agar dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Nah, karena peserta didiknya aadalah pegawai aktif, maka tugas Widyaiswara tidak sama persis dengan dosen atau guru. Widyaiswara tidak bisa memposisikan diri lebih tinggi dari peserta diklat, tetapi Widyaiswara lebih memposisikan diri sebagai partner atau fasilitator dalam diklat.

Ya, Widyaiswara harus menggunakan paradigma ini karena peserta diklat adalah PNS yang mungkin saja memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih dari Widyaiswaranya. Tugas Widyaiswara nantinya harus dapat mengkondisikan agar peserta diklat dapat saling berbagi berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya. Prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa mau tidak mau harus diterapkan di sini.

Oke Sobat, sebenarnya saya ingin menceritakan pengalaman saya dalam proses menjadi Widyaiswara di Kementerian Keuangan. Saat ini saya bekerja sebagai PNS di Direktorat Jenderal Pajak. Karena beberapa alasan, saya memutuskan untuk menjadi Widyaiswara Kementerian Keuangan yang bernaung di Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK).

Proses menjadi Widyaiswara ini sebenarnya sudah di mulai di bulan April atau Mei tahun 2010 lalu ketika Menteri Keuangan waktu itu, Ibu Sri Mulyani Indrawati mengeluarkan Surat Edaran tentang penerimaan Widyaiswara Kementerian Keuangan.  Seluruh PNS, bukan hanya PNS Kementerian Keuangan saja, dapat mengikuti seleksi untuk menjadi Widyaiswara di Kementerian Keuangan.

Saya merasa bahwa saat itulah saat yang tepat untuk menjadi Widyaiswara, karena dalam proses seleksi tersebut tidak ada syarat pengalaman mengajar minimal 2 tahun. Saya sebenarnya juga punya pengalaman mengajar di beberapa lembaga kursus dan kampus, cuma sayangnya saya mengajar biasanya tidak tetap dan tidak lama di suatu tempat karena seringnya mutasi. So, agak sulit mendapatkan surat keterangan mengajar dari suatu lembaga minimal untuk 2 tahun.

Setelah melengkapi persyaratan administrasi, di antaranya rekomendasi atasan langsung, dan surat pernyataan tidak pernah dijatuhi hukuman disiplin berdasarkan PP 30 dari Pejabat Eselon II, akhirnya saya melayangkan surat lamaran menjadi Widyaiswara ke BPPK.

Pada tanggal 16 Agustus 2010, Sekjen Kementerian Keuangan mengumumkan hasil seleksi administrasi yang menyatakan 58 orang lulus seleksi administrasi,  42 orang lulus bersyarat, dan 9 orang tidak lulus seleksi administrasi. Alhamdulillah, saya termasuk yang lulus adimistrasi. Seleksi berikutnya adalah Assesment Center.

Tes Assesment Center dilakukan pada tanggal 25 sampai 27 Agustus 2010. Seingat saya, test ini memakan waktu 2 hari untuk setiap peserta. Hari pertama peserta diberikan test assesment yang testnya berupa wawancara, role play, diskusi, serta memaparkan teknik memecahkan masalah. Pada hari kedua, bentuk testnya adalah berupa Test Potensi Akademik dan Test Kepribadian.

Pengumuman kelulusan Assesment Center ini  dilakukan pada tanggal 27 Oktober 2010 oleh Sekjen Kementerian Keuangan dengan hasil 54 orang pelamar dinyatakan lulus dan 46 orang dinyatakan tidak lulus. Alhamdulillah, saya termasuk yang dinyatakan lulus. Test berikutnya adalah wawancara dan pemaparan bahan ajar.

Untuk mengikuti test wawancara dan pemaparan bahan ajar, peserta test diminta untuk membuat bahan ajar diklat yang berpedoman pada ketentuan BPPK tentang pembuatan bahan ajar. Bahan ajar ini juga harus dilengkapi dengan printout slide presentasi.  Saya mengikuti test ini pada tanggal 23 Nopember 2010. Pengujinya sendiri adalah para pejabat Eselon II di BPPK. Pada saat test ini saya diuji oleh 3 orang penguji, yang salah satunya adalah Kepala Pusdiklat Pajak. Dua orang lagi saya tidak tahu, tetapi kalau dari pertanyaannya, saya menduga salah satu penguji adalah Kepala Pusdiklat Perbendaharaan.

Hasil test wawancara dan pemaparan bahan ajar ini diumumkan pada tanggal 21 Desember 2010. Saya termasuk di antara 45 orang yang dinyatakan lulus seleksi wawancara dan pemaparan bahan ajar. Akhirnya selesai sudah rangkaian test penerimaan Widyaiswara Kementerian Keuangan yang sangat panjang ini.

Apakah peserta yang lulus langsung diangkat sebagai Widyaiswara? Ternyata tidak Sobat. Jalannya ternyata masih panjang dan melebihi apa yang saya prediksikan. Peserta yang lulus seleksi ini harus mengikuti dulu Diklat Calon Widyaiswara selama kurang lebih 2 bulan yang diselenggarakan oleh LAN (Lembaga Administrasi Negara). Diklatnya sendiri dilakukan pada bulan Januari – Pebruari 2011 bertempat di Bapelkes (semacam lembaga Diklatnya Kementerian Kesehatan), di bilangan Cilandak Jakarta Selatan.

Diklat Calon Widyaiswara ini memberikan bekal kepada peserta diklat tentang ilmu dan teknik-teknik pendidikan dan pelatihan. Peserta juga mendapat gambaran tentang apa itu profesi Widyaiswara dan bagaimana proses seseorang menjadi Widyaiswara. Ya, ternyata jalannya masih panjang lagi Sobat. Untuk menjadi Widyaiswara, peserta diklat harus lulus diklat Calon Widyaiswara, lulus test Micro Teaching yang pengujinya Widyaiswara senior dan pejabat LAN, kemudian peserta harus mendapatkan dulu rekomendasi dari LAN. Baru setelah itu peserta bisa diangkat menjadi Widyaiswara.

Setelah selesai diklat dan Micro Teaching, saya bersama peserta diklat yang lain diberikan waktu sekitar satu minggu untuk menyusun DUPAK awal, sebagai bahan LAN mengeluarkan rekomendasi beserta angka kredit awal. Di proses inilah saya merasa keteteran, bayangkan, mengumpulkan bahan untuk angka kredit selama saya bekerja, sementara rumah saya di Pekalongan, tempat  kerja di Palembang, dan urusan ini harus diselesaikan di Jakarta. Belum lagi, setelah selesai Diklat saya langsung harus menghadiri acara workshop pelayanan yang diadakan Kantor Pusat.  Huhhh…

Setelah itu selesai, maka berikutnya saya harus menunggu dikeluarkannya rekomendasi dari LAN. Kata orang LAN, proses ini memakan waktu minimal 3 bulan. Dan benar saya, rekomendasi ini baru keluar sekitar akhir Juni 2011, yang berarti memakan waktu hampir 4 bulan.

Nah, berdasarkan rekomendasi LAN ini, barulah Kementerian Keuangan akan memproses pengangkatan saya dan teman Calon Widyaiswara yang lain menjadi Widyaiswara. Sampai saat saya memposting ini (7 Agustus 2011), proses pengangkatan Widyaiswara saya belum juga selesai. Berdasarkan informasi chatingan dengan temen-temen calon Widyaiswara yang lain, draft SK nya sudah di meja Sekjen Kementerian Keuangan. Semoga minggu depan, SK tersebut sudah jadi sehingga saya tidak perlu balik lagi ke Palembang setelah Lebaran.

Dalam sepinya Palembang,

Sabtu pagi, 7 Agustus 2011

15 Comments :, , , , more...

Intensifikasi dan Ekstensifikasi Pajak

by dudi wahyudi on Oct.20, 2010, under Kantor

Seperti yang telah kita ketahui, jalannya pemerintahan ini sebagian besar dibiayai pajak. Ya, memang sekitar 70% s/d 75% APBN kita sumber pembiayaannya adalah dari sektor pajak. Nah, kebayang kan betapa pentingnya arti pajak bagi negara ini?

Jenis pajak yang sangat dominan terhadap penerimaan perpajakan ini adalah Pajak Penghasilan dan Pajak Pertambahan Nilai. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) adalah institusi di bawah Kementrian Keuangan yang diberi tugas untuk mengelola kedua jenis pajak itu melalui fungsi pelayanan, penyuluhan dan pengawasan terhadap Wajib Pajak. Setiap tahunnya DJP dibebani tugas untuk menghimpun penerimaan pajak, terutama dari kedua jenis pajak ini.

Dalam rangka mengamankan penerimaan pajak yang telah ditargetkan ini, Direktorat Jenderal Pajak melakukan dua pendekatan yaitu kegiatan intensifikasi pajak dan kegiatan ekstensifikasi pajak.

Kegiatan intensifikasi pajak dilakukan dengan mengoptimalkan penerimaan pajak dari Wajib Pajak yang telah terdaftar sebagai Wajib Pajak. Ya, sasaranya adalah orang atau badan yang telah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) tentunya. Ya, kalau kita bandingkan dengan petani, kegiatan intensifikasi ini adalah bagaimana mengoptimalkan produksi padi dengan lahan yang sudah ada. Caranya misalnya mengoptimalkan pemupukan, pengairan dan pembasmian hama.

Nah, kalau dalam intensifikasi pajak, terdapat tiga istilah terkait intensifikasi ini yaitu mapping atau pemetaan, profilling atau pembuatan profil dan benchmarking atau pembandingan. Ketiga kegiatan ini didukung dengan kegiatan pengumpulan data baik dari internal DJP maupun dari eksternal DJP.

Kegiatan tersebut dilakukan secara terpadu untuk menemukan adanya indikasi potensi pajak yang belum tergali yang biasanya dilakukan oleh petugas Account Representative. Proses ini diawali dengan analisa oleh AR yang kemudian bisa dilanjutkan dengan pengiriman surat himbauan kepada Wajib Pajak untuk membetulkan SPT yang telah dilaporkan. Terhadap Wajib Pajak juga bisa dilakukan kegiatan konseling di mana Wajib Pajak dan petugas pajak akan mencari titik temu terhadap perbedaan pendapat atas suatu hal yang dipermasalahkan.

Di sisi lain, kegiatan ekstensifikasi pajak dimaksudkan untuk menambah jumlah Wajib Pajak terdaftar, terutama Wajib Pajak Orang Pribadi. Ya, hal ini dilakukan karena rasanya masih ada orang pribadi yang penghasilannya melebihi PTKP tetapi belum memiliki NPWP.

Pendekatan yang dilakukan selama ini adalah pendekatan kepada pemberi kerja seperti perusahaan dan instansi untuk bekerjasama mendaftarkan karyawannya secara kolektif ke Kantor Pelayanan Pajak tempat perusahaan atau instansi tersebut terdaftar. Pendekatan lainnya adalah pendekatan properti. Pendekatan ini menggunakan data NJOP PBB dengan nilai tertentu untuk melakukan pendataan dan sekaligus untuk mengecek orang pribadi yang memiliki atau memanfaatkan tanah/bangunan tersebut sudah memiliki NPWP atau belum. Pendekatan ini lebih kepada properti yang menjadi pusat kegiatan ekonomi atau yang dimiliki oleh orang yang memiliki potensi ekonomi tinggi seperti pusat-pusat perbelanjaan dan apartemen.

Nah, diharapkan, dengan kedua jenis kegiatan yang dilakukan oleh DJP ini, penerimaan pajak akan semakin meningkat dan dapat mencapai target sekaligus bisa menaikkan angka Tax Ratio negara kita.

Palembang, 20 – 10 – 2010

(sekitar jam 7.30 malam menjelang pergi ke Pal TV untuk mengisi acara talk show tentang masalah di atas)

5 Comments :, , more...

Mengapa Passive Income

by dudi wahyudi on Oct.10, 2010, under Keuangan

Ada dua jenis penghasilan dilihat dari cara mendapatkannya. Pertama adalah passive income dan yang kedua adalah active income. Active income kita peroleh setelah kita melakukan suatu usaha untuk mendapatkannya. Misal kita bekerja pada suatu perusahaan dan setiap bulan kita akan mendapatkan gaji. Atau kita membuka praktek keahlian seperti dokter, pengacara atau arsitek. Nah, untuk mendapatkan active income ini biasanya kita harus mengeluarkan tenaga dan waktu. Penghasilan kita berbanding lurus dengan usaha atau waktu kita.

Tidak demikian dengan passive income yang merupakan jenis penghasilan lainnya. Penghasilan pasif ini adalah penghasilan yang diperoleh tanpa memerlukan usaha atau kerja serta waktu. Artinya, penghasilan ini bisa datang sendiri tidak tergantung kepada berapa besar usaha kita dan tidak mengorbankan waktu kita. Penghasilan ini biasanya berbanding lurus dengan besarnya modal. Dengan demikian, jika kita menginginkan passive income, maka tentunya kita perlu mengumpulkan modal terlebih dahulu. Sayangnya sebagian besar kita tidak punya cukup modal untuk mendapatkan passive income yang besar. Betul tidak? Ya, kecuali Sobat anak orang kaya raya yang akan mendapatkan warisan yang sangat banyak, hehehe.

Nah, karena yang tidak tergantung pada usaha dan kerja maka, kita memerlukan passive income dalam hidup kita karena :

  1. Sobat semua pasti memerlukan lebih banyak waktu untuk keluarga. Ya, jika Sobat menginginkan kehidupan yang bahagia, maka Anda memerlukan banyak waktu untuk berinteraksi dengan orang-orang tercinta. Alangkah indahnya hidup ini bila kita selalu bersama anak-anak dan istri di rumah. Kita bisa menemaninya bermain dan belajar. Kita bisa membantu memantau tumbuh kembang anak kita. Kita bisa menjadi sahabat anak kita.
  2. Sobat memerlukan waktu untuk hobi dan kesenangan. Salah satu kunci kebahagiaan kita hidup di dunia adalah apabila kita bisa melakukan hal-hal yang kita senangi. Terlepas dari apapun hobi Sobat semua, punya banyak waktu untuk melakukan hobi adalah pasti menyenangkan.
  3. Hidup di dunia ini penuh risiko. Siapapun dari kita pasti akan menghadapi berbagai risiko dalam hidup. Risiko sakit, meninggal atau kecelakaan. Apabila Sobat mengalaminya maka Anda tak akan bisa mengandalkan fisik Anda untuk mendapatkan penghasilan sementara kebutuhan hidup sehari-hari keluarga harus tetap dipenuhi.
  4. Ukuran kekayaan sebenarnya diukur oleh besarnya passive income. Sobat bisa dikatakan kaya apabila passive income Anda bisa membiayai kebutuhan rutin hidup sehingga tidak tergantung lagi pada pekerjaan Sobat semua. Bekerja hanyalah cara untuk menyalurkan hobi dan aktualisasi diri.

Karena itulah saya sebenarnya bermimpi suatu saat nanti, paling tidak pada saat pensiun, memiliki penghasilan pasif yan cukup untuk membiayai  hidup sehari-hari. Sayangnya saya tidak dilahirkan sebagai anak orang kaya yang tak mungkin mengharapkan warisan dan hibah orang tua. Yang bisa saya lakukan adalah bekerja, mengumpulkan modal sedikit demi sedikit untuk menghasilkan passive income di masa depan. Penghasilan dari blog juga saya kira termasuk penghasilan pasif walaupun kita masih harus melakukan usaha dan mengorbankan waktu. Tapi, semakin lama tentu usaha dan waktu semakin berkurang dan income semakin meningkat. Nah, bagaimana dengan Sobat semua?

1 Comment :, more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Visit our friends!

A few highly recommended friends...

Archives

All entries, chronologically...